Dari Harus Belajar Menjadi Ingin Belajar

 

Kampus Cor Jesu menggelar seminar dua hari di Aula SMKK Cor Jesu, Kamis dan Jumat, tanggal 18 dan 19 Juli 2019 bersama pemateri Ibu Desiree Maria F.Luhulima dari Finlandia. Ibu Desiree Maria F.Luhulima adalah Warga Negara Indonesia yang lahir di Den Haag, 25 Desember 1957. Beliau tinggal di Viherkallionkuja 3 J66 02710 Espoo Finlandia dan menjadi praktisi pendidikan di sana. Seminar bertajuk "Dari Harus Belajar Menjadi Ingin Belajar" ini bertujuan mengenal sistem pendidikan Finlandia yang dianggap sebagai salah satu sistem pendidikan terbaik di dunia. Kegiatan ini diikuti oleh para kepala sekolah dan guru KB/TK, SD, dan SMP Cor Jesu.

Ibu Desiree membuka seminar dengan sebuah pertanyaan,”Mengapa sistem pendidikan Finlandia dianggap sebagai salah satu sistem pendidikan terbaik di dunia?”

Finlandia memiliki hari sekolah yang lebih singkat jika dibandingkan dengan sekolah di negara lain dan mereka tidak melakukan ulangan atau ujian standar. Siswa diberi kebebasan memilih jalur edukatif mereka berdasarkan minat dan bakat. Pendidikan usia dini Finlandia dirancang di sekitar konsep belajar melalui permainan. Ketika anak mencapai usia 7 tahun, anak masuk dalam pendidikan dasar. Finlandia tidak membagi pendidikan dasar menjadi sekolah dasar (SD) dan menengah pertama (SMP). Sebaliknya, mereka menawarkan pendidikan struktur tunggal selama sembilan tahun. Mengajar adalah bidang yang sangat dihormati dan profesional di Finlandia, bahkan sebagian besar guru SD memegang gelar master.

 

Kultur Sekolah

Bukan "Apa yang sudah diajarkan guru?" tetapi "Siswa sudah Belajar apa?"

 

 

Di jaman milenial ini, kita harus berani berubah. Ethos pendidikan semestinya adalah yang positif dan suportif. Tidak selayaknya guru menggunakan kata-kata atau sikap yang negatif dan merendahkan siswanya. Hindari bicara dengan nada tinggi (marah), memberi tekanan/ancaman, mengingat dan mengungkit kesalahan, atau bahkan mempermalukan siswa. Guru bahkan diharapkan memposisikan diri sebagai murid dan memberi kesempatan muridnya untuk menjadi guru.

Modul pembelajaran yang digunakan bersifat integratif (tematik terpadu) dan siswa dilibatkan dalam pembuatan modul. Siswa belajar tidak terbatas hanya duduk di dalam kelas, melainkan dengan bermain dan belajar di luar kelas sehingga mereka bisa dekat dengan alam dan makhluk hidup lainnya, yang berujung pada menghargai Penciptanya.

Siswa juga difasilitasi untuk dapat bekerja sama dengan grup beda umur atau beda kelas mendampingi adik kelasnya. Mereka diberi kebebasan untuk berexperimen dan kesempatan melakukan kesalahan

Siswa, guru, dan sekolah melakukan self and peer assessment,  penilaian yang mengacu pada proses dan bukan hasil. Ulangan atau ujian hanya untuk sarana pengukuran kemampuan siswa.  Jangan sampai siswa memperoleh perlakuan disaingkan atau dibandingkan karena melihat hasil ujian. Metode pembelajaran yang digunakan sebaiknya bersifat dinamis, yaitu berani mengubah dan berubah, penyampaian materi ajar dengan cara yang seru dan gembira. Guru diharapkan juga selalu bersikap menyimak dan mendengar.